Sabtu, 23 Juni 2012

Pembentukan Komunitas Blogger untuk kemajuan Magetan

Di jaman modern dan dengan semakin berkembangnya teknologi seperti saat ini, seluruh aktivitas manusia hampir tidak lepas dengan adanya internet. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa tidak sedikit yang mengenal Internet. Internet adalah media informasi online yang dapat diakses oleh semua pengguna internet di seluruh penjuru dunia.

Sehingga tidak sedikit orang yang memanfaatkan fungsi internet, yang salah satunya adalah  sebagai sarana Promosi. Seperti para blogger Magetan misalnya. Tulisan tentang potensi Magetan dipublikasikan untuk dipersembahkan kepada para pembaca. Harapannya dengan banyaknya pembaca, maka potensi Magetan akan semakin berkumandang melalui dunia maya.

Saat ini jumlah blogger Magetan tidak bisa dihitung dengan jemari lagi. Banyak komunitas blogger bermunculan. Komunitas blogger yang semakin berkembang banyak memberikan dampak positif yang begitu luas dalam kehidupan, mulai dari dampak-dampak kecil sampai dengan dampak yang besar bagi anggota komunitas tersebut maupun bagi masyarakat sekitar.

Melalui media online seperti blog, memungkinkan semua orang bebas untuk mengeksresikan diri melalui tulisan, artikel atau konten di internet. seseorang tidak perlu meminta izin untuk menerbitkan konten mereka, kecuali konten yang memiliki hak cipta.

Dishubkominfo Magetan berharap dengan terbentuknya Komunitas Blogger Magetan, akan banyak agenda kegiatan, program kerja yang bisa dilaksanakan oleh Blogger Magetan demi kemajuan Kabupaten Magetan tercinta. “Dishubkominfo Kabupaten Magetan siap memfasilitasi dan mendukung pembentukan Komunitas Blogger Magetan,” terangnya dalam situs resmi Dishubkominfo Kabupaten Magetan.

Lezatnya ayam panggang dari dusun Gandu

ayam panggang Gandu
Sentra ayam panggang gandu berlokasi di jalan raya Maospati-Ngawi, tepatnya di Desa Gandu, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan. Sebuah papan petunjuk arah dipasang tepat di pertigaan Karangrejo sebagai penanda bagi para pengunjung. Di pedesaan yang sejuk dan hening ini, sedikitnya ada 10 warung lesehan penyedia ayam panggang, antara lain, milik Bu Setu, Bu Suryani, Bu Sarmi, Bu Sri, dan Mbah Mimin. Para ibu ini bekerja berdampingan karena memegang fisolofi “rezeki sudah ada yang mengatur”.

“Tamu-tamu datang dari mana-mana dan kebanyakan luar kota, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Solo, pokoknya dari jauh-jauh. Mereka rata-rata datang hanya untuk menikmati kelezatan makanan khas Kabupaten Magetan, yaitu ayam panggang gandu” ujar Bu Setu, salah satu penjual ayam panggang.

Di hari biasa rumah makan ayam panggang milik Ibu Setu ini, tak kurang dari 50 orang dari berbagai kota datang untuk menikmati ayam panggang. Puncaknya adalah saat liburan. Saat liburan warung Bu Setu di banjiri para pengunjung. Karena banyaknya pengunjung membuat pengusaha ayam panggang ini kewalahan. Tak tanggung-tanggung dalam satu hari rumah makan ini bisa memotong tujuh ratus hingga delapan ratus ekor ayam.

Untuk bisa menikmati kelezatan ayam panggang gandu cukup merogok Rp 45 ribu untuk setiap potongnya. Jika anda tertarik dan ingin mencoba silakan datang di Desa Gandu, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan.

Jumat, 22 Juni 2012

Listrik Belimbing Wuluh kumandangkan Magetan

Sunarto dikelilingi para pejabat
Belimbing wuluh adalah tanaman yang sangat mudah untuk di jumpai di daerah Magetan, dan pedesaan pada khususnya. Selama ini banyak orang yang memandang sebelah mata dengan keberadaan buah yang rasanya sangat asam itu.

Namun berbeda dengan Sunarto. Seorang guru SMKN 1 Bendo ini, di tengah keluhan warga akan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) menciptakan energi baru . Cukup dengan satu gelas tanah, jus blimbing wuluh, serta lempeng tembaga dan seng sebagai elektroda, ia sulap menjadi zat pengurai yang mampu menghasilkan tenaga listrik alternatif. Hasilnya, energi listrik pun tercipta dengan tegangan yang lumayan, yakni hingga mencapai 5 volt. Daya listrik itu cukup untuk menghidupkan lampu penerangan atau menyalakan radio. Tegangan yang dihasilkan ini lebih besar dari tegangan satu buah batu baterai.

“Rata-rata 10 butir belimbing wuluh mampu menciptakan tegangan listrik hingga mencapai 2,5 volt atau setara dengan satu buah batu baterai kering,” kata Sunarto.
Hingga kini, Sunarto masih terus mengembangkan hasil temuannya. Ia ingin setelah berkembang nanti, energi listrik alternatif temuannya itu dapat dikemas dalam bentuk produk energi yang praktis, layaknya baterai. “Jika itu bisa diwujudkan, maka temuan ini bisa menjadi salah satu alternatif energi murah di tengah beban kenaikan tarif listrik yang mengimpit rakyat kecil”, Terang guru jebolan ITS ini.

Karena temuannya ini Sunarto menjadi terkenal layaknya selebrtis. Beberapa stasiun Televisi dan media cetak secara bergantian meliput untuk menginsformasikan kepada masyarakat luas tentang temuaan guru asal Magetan ini.

Liputan listrik belimbing wuluh bisa anda lihat di bawah ini :

Rabu, 20 Juni 2012

Sandal batik tembus pasar ekspor

Industri rumah tangga kerajinan sandal batik
Industri rumah tangga kerajinan sandal batik di Desa Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, telah mengumandangkan nama Indonesia, dan Magetan pada khususnya. Sandal batik buatan Magetan ini menembus pasar luar negeri. 

Industri ini setiap bulan menghasilkan rata-rata 2.600 pasang sandal batik. Sandal batik ini banyak di pesan berapa daerah di Indonesia dan pasar luar negeri di antaranya Belanda, Malaysia, Singapura, dan Thailand.

“Awalnya sempat kesulitan modal dan pasar, namun kini telah cukup berkembang. Pangsa pasar sandal batik ini masih cukup menjanjikan,” kata Hendrik Yulianto, pemilik usaha kerajinan sandal batik ini.

sandal ini terbuat dari spon karet yang dibalut kain batik dengan berbagai model serta motif. Sandal batik ini dibuat dengan memanfaatkan limbah kain batik. Sandal batik ini dijual dengan harga bervariasi, antara Rp10 ribu hingga Rp20 ribu, tergantung model sandal.

Omzet yang diraih juga lumayan banyak, yakni minimal mencapai Rp20 juta setiap bulan. Sedangkan bahan baku limbah kain batik, didatangkan dari daerah penghasil kain batik, di antaranya Solo, Yogyakarta, dan Pekalongan dengan harga yang relatif sangat murah.

Kini, seiring dengan pengakuan dunia akan batik oleh Unesco, sandal batik semakin diminati. Harapan Hendrik Yulianto, nantinya kerajinan ini mampu menjadi ikon Kabupaten Magetan, sama halnya dengan Telaga Sarangan, Jeruk Pamelo, dan kerajinan kulit.

Senin, 11 Juni 2012

Pamelo potensi unggulan Magetan

kontes jeruk Paemelo
Pemkab Magetan membuka Pasar Agrowisata Jeruk Pamelo di Sukomoro Magetan. Pasar wisata yang ada di Jalan Raya Sukomoro-Maospati itu bisa menjadi jujukan baru bagi para wisatawan yang berkunjung di Magetan. “diharapkan dengan adanya pasar ini hasil pertanian petani jeruk tidak lari ke tengkulak lagi, sehingga mereka bisa meraup keuntungan yang lebih,” kata Bupati Magetan Sumantri, Kamis (03/05).

Disaat yang bersamaan juga digelar kontes pamelo. Panitia melombakan 2 kategori yaitu Pamelo varietas sudah dilepas dan varietas belum dilepas. “lomba kali ini diikuti sebanyak 198 peserta, jika tidak dibatasi bisa mencapai 300 lebih,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Magetan Edi Suseno.

Kata Edi, Pasar pamelo ini juga untuk mempertegas bahwa jeruk pamelo adalah potensi unggulan asli Magetan. “ Karena selama ini banyak orang yang mengira pamelo berasal dari Bali, padahal aslinya dari Magetan,” terangnya.